31 July 2017

ILMU MAWHUB



Ilmu Mawhub adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak melalui logika dan penjelasan teori, tetapi diperoleh dari pengalaman langsung dan pencerapan Ilahi. Ilmu ini menggunakan sensitifitas rasa (dzawq). Ilmu yang tidak dibatasi oleh aturan tertentu, tidak diatur oleh logika berpikir tertentu dan tidak dikendalikan oleh timbangan-timbangan metode tertentu, tetapi ilmu yang berdasarkan penyingkapan spiritual. Dimana penyingkapan ini bersifat objektif dan ideal, lepas dari penilaian salah dan benar. Adapun yang mengandung kemungkinan salah dan benar adalah cara menyampaikannya pada sebuah konteks.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Berbuat ganjillah wahai Ahli al-Quran karena Allah itu ganjil dan suka pada yang ganjil!” Seorang Badui kemudian bertanya, “Apa maksud dari yang kau sampaikan wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Pernyataan ini bukan untukmu dan teman-temanmu.”
Sayyidina Ali RA pernah berkata, “Sesungguhnya di antara dua rusukku ada sebuah ilmu yang bila aku sampaikan niscaya kalian akan mencampuradukkannya dengan yang lain.” Sayyidina Ali RA menepuk dadanya seraya berkata, “Sesungguhnya di sini banyak tersimpan ilmu yang melimpah, seandainya ada yang berkompeten untuk menerimanya akan aku sampaikan.”
‘Abdullah ibnu ‘Abbas RA berkata, “Seandainya aku mengungkapkan apa yang aku ketahui tentang firman Allah SWT dalam surah al-Talaq ayat 12 maka niscaya kalian akan merajam, membunuh dan memvonisku kafir." Baca juga kisah ‘Abdullah ibnu ‘Abbas dalam tafsir surah al-Nasr. Demikian pula kisah cicit rasulullah SAW, Zainul Abidin RA menyampaikan hal tersebut dalam syairnya yang populer.
Mereka semua adalah para penghulu kebaikan, ‘arifin billah dan sangat memahami akan keberadaan ilmu ini. Mereka akan berdiam serta menahan diri untuk mengungkapkannya jika tidak ada orang yang berkompeten untuk menerimanya.
Sesungguhnya sebagian besar ilmu yang dimasukkan ke hati mereka adalah tiupan Ilahi yang tidak serta merta bisa dipahami oleh para pemikir positivistik. Para ‘arifin billah itu sering menyampaikan ilmu pengetahuan ini dengan simbol-simbol dan perumpamaan yang tidak bisa dipahami oleh semua orang agar tidak disalahpahami oleh orang-orang yang tidak berkompeten dan akhirnya menjadi kontra produktif.
Seseorang disebut tidak akan sampai pada derajat keilmuan kalau ilmu yang diperolehnya tidak dicerap secara langsung (mawhub). Karena ilmu yang diperoleh dari proses pengamatan terhadap peristiwa empiris dan fenomenal melalui media penukilan/kutipan dan guru tidak bisa dianggap sebagai 'kebenaran'.
Karena ilmu yang disampaikan tersebut tidak akan terlepas dari pengaruh tabiat dan kondisi seseorang, sehingga pemahaman tidak akan murni lagi bahkan akan terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran yang subjektif dan akan memalingkan kondisi realitas objek karena dampak teorisasi dan proses penelitian.
Ilmu Mawhub ini, jika dipaparkan dengan perumpamaan, akan menjadi lebih jelas dan terpahami maknanya. Akan lebih mendekati hakekat dan dapat terambil intisarinya. Terutama bagi seorang pendengar yang cerdas. 
Oleh karena itu, supaya ilmu ini bisa terjaga objektivitasnya maka seseorang yang telah mencerapnya hendaknya menyembunyikan realitas hasil temuannya dan hanya mengungkapkannya dengan simbol dan perumpamaan. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para kaum salaf terdahulu melalui penggunaan ungkapan-ungkapan puitis dalam syair-syair mereka.

ILMU MUKTASAB



Ilmu Muktasab adalah ilmu yang bersifat logis rasional yang diperoleh dari proses intelektual seseorang dan mempunyai kemungkinan berubah-ubah. Kemungkinan tersebut terjadi karena ilmu ini berasal dari proses berpikir seseorang yang tentu saja hasilnya tergantung perangai, watak, suasana hati dan kondisi mentalnya.
Objeknya adalah sesuatu yang bisa diindera atau bisa dipikir secara rasional dan logis. Meskipun objeknya satu akan memungkinkan munculnya berbagai macam pendapat dan teori kebenaran. Bahkan satu pendapat dan teori pun masih bisa berkembang lagi menjadi pendapat dan teori lain.
Untuk mencapai hasil yang konstan dan konsisten serta diakui kebenarannya ilmu ini membutuhkan apa yang disebut dengan metode ilmiah. Keberadaan metode ini sebenarnya merupakan kelebihan sekaligus kekurangannya.
Kekurangannya adalah metode ilmiah yang rigid tersebut akan membatasi dan menutup hakikat atau realitas objek yang sebenarnya. Karena hanya menerima hal yang sifatnya empiris dan rasional maka yang tampak oleh panca indera saja yang bisa dijangkau ilmu ini, selain itu tidak bisa.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka akan berubah pula sifat kebenaran dalam jenis ilmu ini. Tidak akan ditemukan kebenaran yang hakiki dan bersifat mutlak di dalamnya. Padahal alam semesta ini terlalu sempit dan kecil kalau hanya didasarkan pada apa yang terlihat oleh panca indera saja.
Masih ada hal-hal yang juga merupakan ‘kebenaran’ akan tetapi tidak bisa dijelaskan dengan metode ilmiah. Jumlah objek kebenaran atau ilmu ini secara kuantitas justru jauh lebih besar daripada kebenaran yang pertama dan hanya bisa dijelaskan dengan metode yang ‘lain’. Meskipun banyak kalangan menolak keberadaannya.
Dalam tradisi Islam diriwayatkan ada beberapa orang yang menguasai metode atau ilmu ‘lain’ tersebut. Di antaranya dari kalangan sahabat adalah ‘Ali ibnu Abi Thalib dan ‘Abdullah ibnu ‘Abbas. Bahkan cicit Rasulullah SAW sendiri yaitu Zainul ‘Abidin juga dikenal mempunyai ilmu khusus atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Mawhub.
Lalu apa yang disebut dengan Ilmu Mawhub tersebut..? Anda penasaran..? Tunggu tulisan berikutnya..

25 December 2016

PENGETAHUAN HAQQ AL-YAQIN ( ILMU YANG TAK DIAJARKAN: SEBUAH META INTELEKTUAL )


Secara epistemologis dalam tradisi Barat keilmuan terbagi dalam empat aliran mainstream yaitu rasionalisme, empirisisme, positivisme dan post positivisme. Demikian juga dalam tradisi Islam. Selain pembagian Abid al-Jabiri ke dalam nalar Bayani, Burhani dan Irfani juga ada pembagian yang banyak digunakan dalam tradisi tasawuf, yaitu ‘Ilmu al-Yaqin, ‘Ayn al-Yaqin dan Haqq al-Yaqin.
Menurut al-Sha’rani dalam kitab al-Kibrit al-Ahmar dan 'Abdullah ibnu Abi Bakr al-'Idrus dalam kitabnya al-Kibrit al-Ahmar wa al-Iksir al-Akbar ‘Ilmu al-Yaqin adalah pengetahuan yang bersifat eksplanatif informative deduktif, mencapai kebenaran dengan jalan memperbanyak data. Adapun‘Ayn al-Yaqin adalah pengetahuan yang bersifat logis argumentative induktif, mencapai kebenaran dengan jalan memperbanyak pengalaman empiris di lapangan (demonstrative). Sedangkan Haqq al-Yaqin adalah pengetahuan yang bersifat pengalaman langsung (bārizan, na’t al-‘ayan), tanpa metode, media dan perantara. Kedua pengetahuan yang pertama menyusun metodenya masing-masing dalam mengembangkan keilmuannya.
Al-Qushairy dalam al-Risalahnya memasukkan kedua pengetahuan yang disebut pertama ke dalam wilayah ‘aqli/nadzari (diskursif). Kebenaran keduanya bersifat temporal dan spekulatif. Sedangkan yang ketiga masuk ke dalam wilayah wahbi/kasyfi atau pengetahuan tanpa metode, media dan perantara, kebenarannya bersifat mutlak.
Tradisi akademis Barat memahami pengetahuan yang ketiga ini bersifat intuitif imajinatif teofanik meskipun faktanya tidak identik dengan konsep mereka yang positivistik. Sartre, seorang tokoh Eksistensialis, dalam bukunya The Psychology of Imagination, mengilustrasikan pengetahuan seperti ini ibarat orang yang tidak bisa ikut merasakan sakit yang diderita oleh orang lain, hanya terhenti pada rasa ikut merasakan belaka, sekedar berempati. Dan ini bukanlah perasaan otentik yang dirasakan oleh si sakit. Dibutuhkan pengetahuan yang bersifat intuitif dan imajinatif untuk bisa masuk ke dalam perasaan otentik si sakit.
Tanpa pengetahuan ini manusia akan terpenjara oleh dirinya sendiri dan tidak mampu merasakan sesuatu yang berada di luar dirinya. Lewat pengetahuan intuitif dan imajinatif lah akhirnya manusia akan mempunyai kesadaran dan mengalami kebebasan.
Dari ketiga model pengetahuan di atas, pengetahuan Haqq al-Yaqin merupakan pengetahuan para Nabi, para sahabat Nabi dan orang-orang yang dekat dengan Allah SWT. Lebih kongkritnya ikuti kisah berikut ini:
Diriwayatkan oleh al-Suyuti dalam al-Durr al-Manthur dan Ibnu katsir dalam tafsirnya bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada Zaid ibn Haritsah, “Apa tanda mekarnya bunga-bungaan di taman imanmu? Dapatkah engkau menjelaskan kepadaku tandanya?” Dia menjawab, “Sejak aku kehilangan gairah akan dunia ini, hari-hariku dihabiskan tanpa air dan malamku tanpa tidur. Aku telah melewati hari-hari dan malam-malam ini bagaikan sebuah tombak yang telah menembus perisai. Aku telah mencapai rahasia kepastian dalam pengetahuan melalui pengalaman langsung. Dalam momen kehidupan pada tingkat kesadaran itu, aku mengamati bahwa di sana waktu tidak memiliki keberadaan. Satu jam sama dengan satu abad. Semua yang tampak merupakan manifestasi yang Esa dan Tunggal. Siang dan malam tidak berlaku di sana. Yang ada hanya keabadiaan tanpa awal dan akhir. Itu sebuah dunia, yang melampaui horizon pemikiran terbatas manusia, di mana tak ada ruang dan waktu. Ketika momen ini pertama bangkit, aku merasa seakan-akan melihat singgasana Tuhanku, dan seolah-olah aku melihat para penghuni surga yang saling mengunjungi dan penghuni neraka yang saling membenci.”
Atau yang ini:
Diriwayatkan dari Imam Bukhari tentang ibnu Abbas: Pernah suatu hari Umar mengajakku dalam suatu forum bersama para veteran perang Badar, dan kelihatannya sebagian di antara mereka tidak suka dengan kehadiranku yang masih kanak-kanak. Dia berkata, “Mengapa kau masukkan anak ini bersama kami padahal kami juga punya anak-anak seumuran dia?” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya kalian sudah tahu siapa dia.”
Pernah suatu hari Umar memanggil mereka dan juga mengajakku sebagai anak kecil. Aku sama sekali tidak mengira kalau Umar mengajakku hanya untuk dipamerkan kepada mereka. Umar bertanya kepada mereka, “Apa pendapat kalian tentang firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Nasr?”
1. “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan”,
2. “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”,
3. “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat”.
Sebagian dari mereka menjawab, “Kita diperintahkan untuk memuji Allah, memohon ampun kepada-Nya ketika ditolong dan dimenangkan dari musuh-musuh kita.” Dan sebagian dari mereka terdiam tidak berkata sepatah katapun. Kemudian Umar menoleh dan bertanya kepadaku, “Apakah kamu juga berpendapat demikian hai Ibnu Abbas?” Aku menjawab, “Tidak” Dia bertanya lagi, “Lalu apa pendapatmu?” Aku berkata, “Itu adalah kabar tentang ajal Rasulullah SAW yang aku sampaikan kepada beliau, wahai Rasulullah itu adalah tanda-tanda ajalmu”. Umar berkata, “Aku tidak mengetahui tentang hal itu kecuali apa yang telah engkau sampaikan”.

Wallahu a’lam bi al-sawab

28 October 2016

JADILAH DIRIMU SENDIRI UNTUK BAHAGIA



Banyak orang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidupnya. Sedangkan kebahagiaan yang sejati, menurut saya hanya dapat diperoleh jika orang mau menjadi dirinya sendiri yang otentik, yang asli dan tidak dilumuri kemunafikan. Meskipun sampai sekarang banyak motivator, pengajar atau buku-buku self-help yang masih mengajarkan orang untuk tidak menjadi dirinya sendiri tetapi menjadi seperti tokoh-tokoh tertentu yang sudah sukses baik di bidang ekonomi maupun kemanusiaan. Inilah yang disebut David Rieman sebagai “individu yang terarah pada individu yang lain” (other-directed individual).

Pengenalan terhadap diri sendiri merupakan syarat utama untuk mencapai hidup yang otentik. Pengenalan diri sendiri dan keberanian untuk menerimanya dengan jujur menjadi awal proses pengembangan diri. Fritz Perls seorang terapis eksistensial berpendapat bahwa, orang yang tidak bisa menjadi otentik dapat dikategorikan sebagai orang yang neurosis. Neurosis sendiri adalah suatu kondisi, di mana orang berusaha melarikan diri dari dirinya sendiri. Orang yang neurosis telah mengorbankan diri mereka sendiri justru untuk mengembangkan dirinya.

Secara lebih luas masyarakat dan dunia sosial keseluruhan mempunyai aturan dan tuntutan, yang seringkali menghalangi orang untuk menjadi dirinya sendiri. “Segala sesuatu di dalam eksistensi sosial”, demikian Guignon, “Menarik kita menjauh dari upaya untuk menjadi diri kita sendiri, untuk alasan sederhana bahwa masyarakat bekerja secara maksimal dengan membuat orang terkurung di dalam mekanisme kehidupan sehari-hari.”

Dunia sosial dan peran sosial yang dipaksakan mendorong orang untuk menjadi tidak otentik. Spiritualitas yang kokoh dan cara pandang yang jernih terhadap realitas merupakan kunci untuk tetap otentik di dalam dunia sosial. Sekaligus keberanian untuk mengatakan tidak untuk segala sesuatu yang ingin mengubah dirinya. Tanpa itu seseorang tidak akan mampu menjadi dirinya sendiri dan akan selalu terombang-ambing dalam kehidupan.

Sesungguhnya di dalam diri setiap orang terdapat jati diri yang sejati, yang membedakan orang tersebut dari orang-orang lainnya. Jati diri yang sejati ini mengandung perasaan-perasaan, kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat, kemampuan-kemampuan, dan kreativitas yang membuat orang tertentu unik, jika dibandingkan dengan orang lainnya.

Menurut Guignon, konsep otentisitas memiliki dua aspek pemahaman. Yang pertama adalah pemahaman bahwa untuk menjadi otentik orang perlu menemukan jati diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika orang mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, barulah ia mampu mencapai eksistensi diri yang otentik. Yang kedua selain menemukan jati diri sejatinya, orang juga perlu mengekspresikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dunia sosial. Orang perlu untuk menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan orang lain. Hanya dengan mengekspresikan jati diri sejatinyalah orang dapat mencapai kepenuhan diri sebagai manusia yang otentik.

Tidak ada orang lain yang mampu memahami perasaan-perasaan kita, selain kita sendiri. Kita juga tidak bisa menuntut orang lain untuk bisa memahami perasaan-perasaan kita tersebut. Yang sering kali terjadi justru kita harus memaksakan diri untuk menyesuaikan perasaan kita dengan orang lain atau masyarakat pada umumnya. Meskipun dalam perjalanan banyak orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial tersebut sehingga menyebabkan dirinya terjerembab dalam krisis identitas yang melelahkan.

Hanya sedikit di antara mereka yang mampu memiliki dorongan personal yang berbeda dengan tuntutan kultural yang dibebankan masyarakat. Mereka bertindak dengan motivasi personal yang tidak memerlukan justifikasi dari dunia sosial. Akibatnya mereka dianggap jahat, asing, aneh, eksentrik, dan sebagainya. Dalam level tertentu mungkin malah dikatakan gila.