07 December 2009

Bakat Alam


Menurut beberapa ahli, manusia mempunyai beberapa macam pembawaan atau nurani tertentu seperti pembawaan falsafiah, ilmiah, keteknikan, artistik, sosial-politik, nurani-teosofis maupun religius. Tetapi saya tidak akan membahas topik-topik tersebut, yang akan saya bicarakan adalah sesuatu yang lebih berkembang melampaui batas-batas semua kesadaran lain seperti tersebut di atas.

Tegasnya, ada figur-figur yang memiliki kesadaran politis, sosial, keteknikan dan kesadaran artistik tanpa mempunyai kecenderungan terhadap kesadaran diri manusia, begitupun sebaliknya. Sehingga hal itu bukanlah manifestasi dari tipe-tipe kesadaran di atas, maupun produk dari semua itu, melainkan sama sekali independent..!

Bagi figur-figur yang menyadari hal itu, akan mempunyai daya mental untuk menangkap sendiri term-term tengah dari suatu silogisme, baik yang ada di sekelilingnya maupun yang berjauhan, tentunya yang masih ada getaran dengan dirinya. Mungkin...inilah yang dinamakan dengan Intelegensi Natural. Ini adalah pembawaan sejak dia mulai bisa berpikir, yang tentunya sebelum itu didahului oleh getaran-getaran pribadi yang bersangkutan.

Untuk meraih hal itu, merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sedangkan untuk memunculkannya adalah dengan jalan menempanya dan memberinya sentuhan-sentuhan teologis, dan setelah itu perlu disodorkan dengan motif-motif teologis pula, supaya logika-logika yang ada di dalamnya bisa diterima sehingga dapat menimbulkan minat sejati kepadanya dan dapat menyingkirkan perasaan marginal pada diri seseorang.

Tentunya untuk menerima semua itu perlu intuisi yang tajam, sehingga dapat memberi tekanan pada hal-hal yang dapat dipahamkan. Sebaliknya, tanpa intuisi yang mencukupi akan membingungkan dan menyebabkan keluarnya pernyataan-pernyataan yang keliru.
Pun pula, tidak mungkin yang bersangkutan diberi nada-nada apriori karena semuanya merupakan tabula rasa dari dirinya (dari pandangan-pandangan sosial, pengalaman-pengalaman batin dan pemikiran-pemikirannya). Dan serendah-rendah kebenaran bagi pihak lain adalah membenarkan dan menyerahkan kepada ahlinya.

28 November 2009

Akhlak


Sudah jelas bahwa seseorang yang selalu berusaha menghindari kebaikan, di hatinya banyak noda-noda kotor yang disebabkan dan menyebabkan perilaku-perilaku yang kurang baik. Sehingga kalau tidak diperhatikan kebersihannya sesegera mungkin, hatinya akan tertutup sama sekali.

Sedangkan seseorang yang selalu berusaha menuju kebaikan dan memperjuangkannya adalah orang-orang yang mempunyai hati bersih dan sibuk dengan usaha-usaha untuk kebersihan hatinya. Sehingga hatinya lapang dan memantulkan cahaya yang terbias pada ucapan dan perilakunya.

Dan tentunya, kesemuanya itu ditentukan oleh faktor hidayah dan taufiq. karena dengan kedua hal tersebut manusia dapat membedakan tentang hal-hal mana yang mengotori hati dan mana yang dapat membersihkannya. Walaupun dalam kenyataan manusia banyak kelemahan-kelemahan sehingga sering lalai dan terjerumus, tetapi masih harus tetap diupayakan untuk berdo'a memohon hidayah dan taufiq, serta berusaha dalam amal perbuatan.

Dalam lapangan pergaulan, akan terdapat perbedaan yang mencolok antara yang memahami karakteristik manusia dan yang tidak. Di dalam ruang lingkup "yang berusaha memahami karakteristik manusia" pun masih terdapat perbedaan lagi, yaitu antara yang bijaksana dan berpikir matang dengan yang tidak. Yang tidak mempunyai kebijaksanaan dan kematangan dalam berpikir akan sering bertindak ekstrim (mudah dikuasai emosi).

Karakteristik-karakteristik tersebut sulit dipahami oleh sebagian manusia, karena memang mudah tersamar oleh adanya penampilan-penampilan dan ucapan-ucapan yang ditimbulkan oleh pengaruh-pengaruh eksternal, bukan dari internal manusia itu sendiri.

Ada kalanya, dalam menutupi kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, manusia berusaha menceritakan kelebihan-kelebihannya dari sisi lain. Sehingga dengan tidak dirasanya semakin memperlihatkan kelemahan-kelemahan dirinya.

Memang, manusia diciptakan dalam banyak kelemahan-kelemahan, untuk itu, perlu manusia memperhatikan sesuatu di luar dirinya demi menjaga dan memelihara keseluruhan pribadinya. Dalam pengertian sublimnya "manusia meneliti manusia". Apabila seseorang dibutakan oleh sesuatu, dia akan cenderung berbicara lepas dari "rel kenyataan" dan "kebenaran". Walaupun yang dibicarakan itu sesuatu yang dianggapnya benar.

Perintah Harian al-Quran


Faktor lain yang mendukung keberhasilan Risalah dalam membangun generasi sahabat ialah, bahwa mereka memandang al-Quran sebagai perintah harian yang harus segera dilaksanakan. Mereka memahami al-Quran bukan untuk tujuan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan semata. Bukan sekedar menikmati keindahan sastranya dan mengagumi isi serta gaya bahasanya. Dan bukan pula untuk tujuan-tujuan rendah demi memperoleh keuntungan duniawi, atau kedudukan sosial yang lebih baik dan sebagainya.
Akan tetapi mereka mempelajari al-Quran adalah semata-mata untuk menerima perintah Allah guna dilaksanakannya. Baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, jama'ah maupun persoalan-persoalan lainnya.

08 September 2009

Termangu


Termangu...
menatap kepergian bayang-bayangku sendiri
Semua memaksakan kehendaknya
Sehingga bayang-bayangku memutuskan pergi...
Kini aku bukan diriku lagi

Tolong...
panggil kembali bayangku
karena akan kuajak serta...
untuk mendekat pada diriMu

05 September 2009

Jalan Pulang


Kesuksesan tidak selalu berarti kita menjadi apa pada saat ini. Setelah lulus perguruan tinggi kependidikan tidak selalu berarti kita menjadi guru atau PNS. Hanya karena seseorang sukses secara profesional -sebagai PNS, pengacara atau dokter- tidak berarti kita melakukan sesuatu yang telah digariskan bagi kita. Hanya karena kita kaya tidak berarti kita berhasil menjadi orang yang telah digariskan bagi kita.
Menjadi apa yang telah digariskan bagi diri kita merupakan pelampauan atas kesuksesan dan pencapaian. Menjadi orang yang digariskan bagi diri kita adalah menemukan kembali jalan kita dan kembali ke jalan itu. Hasrat menemukanlah yang akan menuntun kita ke jalan itu..Jalan Pulang.

31 July 2009

Absurditas Kehidupan

Manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Ia hanya menemukan dirinya terlempar di dunia ini tanpa alasan. Dia harus mencari alasan kenapa dia hidup. Bagi manusia, sekali terlempar ia harus bertanggung jawab atas apa pun yang ia buat di hadapan segala umat manusia.
Jika manusia melihat realitas disekelilingnya tidak sesuai dengan pandangan antropomorfistiknya (pandangan yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia) akan membuatnya tersudut dalam apatisme nihilistic. Apatisme muncul karena orang berharap terlalu banyak atas ideal antropomorfistiknya sendiri. Setelah itu orang akan merasa loyo, lelah, terserak, bingung dan akhirnya jatuh dalam ungkapan-ungkapan yang serba meratap. Manusia yang kehilangan pegangan adalah manusia yang limbung, resah, terperosok dalam kekosongan.
Akar masalah yang didiagnosis secara genealogis akan memperlihatkan bahwa dibalik itu semua ada kebutuhan akan pegangan. Pegangan adalah sangkar bagi perahu manusia yang terombang-ambing lautan realitas. Dunia dan hidup itu tidak jelas, buram, amorf dan absurd. Ia selalu mengalir, menjadi, campur aduk antara hitam dan putih, atau singkatnya berwarna abu-abu. Bisakah kita hidup dalam abu-abu terus menerus? Inilah titik pertanyaan yang paling krusial. Tidak semua orang mampu menghadapi dan mencari penjelasan atasnya.
Orang membutuhkan pegangan untuk dijadikan orientasi dan patokan dalam hidup. Pegangan menjadi berguna karena membantu manusia memaknai kehidupan, dan dengan demikian membantunya hidup. Masalahnya, apakah hidup itu sendiri sesuai dengan parameter pegangan yang ia cengkeram? Itulah pertanyaan yang membongkar si manusia itu sendiri. Seorang Nietzsche jelas mengatakan tidak: hidup, dunia, realitas tidak bisa dikotakkan dalam kesempitan pegangan antropomorfistik manusia. Karena tidak ada yang ideal dan kekal di dunia ini.
Sebuah pencarian tak berakhir untuk sesuatu yang baru dan lebih baik tidak memberikan nilai ketika ia telah dicapai, celaan terhadap sesuatu yang lama, dan meletakkan seluruh harapan pada yang baru. Ini adalah proses yang terus menerus dan merupakan lingkaran setan yang telah dialami manusia di mana pun sepanjang sejarah.

25 July 2009

Hukum Islam dan Keadilan Sosial


Ada hubungan erat antara hukum Islam dan keadilan sosial. Yaitu bagaimana mewujudkan keadilan sosial dengan praktek hukum Islam. Apa betul sih hukum Islam itu sangat terikat dengan prinsip-prinsip fiqih, aksioma dan kerangka prosedur tertentu an sich. Menurut saya hukum Islam itu penuh dengan hasrat kerinduan terhadap semangat Islam seperti kasih sayang, solidaritas, persaudaraan dan keadilan sosial. Semangat ini dikaitkan dengan “Zaman Keemasan” pemerintahan Nabi di Madinah. Kerinduan akan tatanan yang akan ditegakkan oleh orang-orang saleh awal yang menjunjung tinggi agama ini menjadi bermakna dalam konteks lingkungan sosio ekonomi yang mengalami transformasi radikal. Selaras dengan semangat itu, tugas kita adalah menyusun kembali, memperbarui atau mensintesis Islam agar relevan dengan kebutuhan, tuntutan dan keadaan sulit yang dihadapi orang-orang yang mereka anggap sebagai korban peradaban modern.

Jalan Pencarian


Jalan pencarian sebenarnya tidak akan pernah mantap oleh ikhtiyar manusia. Jadi perlu ada dua agenda antara menalar dan menerima dogma. Dengan menalar, hati dan pikiran mendapat pemuasan, karena hal ini melalui perjalanan intelektual yang mengasyikkan, walaupun kadang sangat melelahkan. Akan tetapi dengan cara ini posisi kebenaran belum menemukan kepastian. Dengan cara dogmatis terasa lebih aman, akan tetapi kadang-kadang hati dan pikiran mengalami kontradiksi.

Jadi yang perlu dicari adalah jalan yang tepat dalam rangka mencapai kebenaran dengan hati yang puas dan bahagia. Membaca, adalah salah satu caranya. Karakteristik penting dalam membaca adalah menghayati. Menghayati dipisahkan dari pengertian berpikir, menalar, menganalisis, meringkas, mencari pokok pikiran, gagasan dan lain-lain.

Penghayatan, disamping mempunyai pengertian yang mendalam, lebih mendorong seseorang untuk diam dalam diskusi, walaupun diam itu sendiri belum tentu menghayati. Penghayatan yang mendalam akan mengantarkan seseorang untuk melakukan konstruk teori. Konstruk teori dapat ditemukan oleh para penghayat sekaligus praktisi, bukan para pembaca buku atau pemikir (dalam tataran tertentu).

Biasanya, orang yang dapat mengkonstruk teori berasal dari atau berangkat dari salah satu di antara berbagai macam disiplin ilmu (spesialisasi) atau proses pematangan pada satu pendekatan. Walaupun seseorang mengarah kepada pematangan satu pendekatan, dia tidak bisa mengabaikan nuansa pendekatan-pendekatan yang lain. Karena hal itu bertali kelindan antara yang satu dengan yang lain. Untuk memulainya, dia harus membaca semua ilmu (keasyikan membaca ilmu kadang menjadi terusik justru ketika mendengar eksplanasi ilmu itu dari orang lain) dalam rangka menemukan spesialisasi tersebut. Penemuan spesialisasi bisa diwujudkan karena adanya interest. Tanpa hal tersebut di atas, hanya akan terjebak dalam eksperimen-eksperimen tanpa hasil. Untuk visualisasinya, coba renungkan ini:

“Lichtenberg menemukan identitas structural kualitatif dari berbagai domain disiplin ilmu. Ada pembiasan sinar karena gravitasi bumi. Setahun pada umumnya 365 hari, kecuali pada tahun kabisat. Ini bukan sekedar perhitungan hari dalam setahunnya, melainkan terkait pada rotasi bumi dan lainnya. Dua contoh tersebut menunjukkan adanya hubungan structural antar berbagai sesuatu yang konstan, yang berada pada domain disiplin ilmu yang mungkin beragam. Hubungan structural ini disebut oleh Lichtenberg sebagai paradigmata”

18 July 2009

Keseimbangan


Keseimbangan dapat ditengarai ketika kita sedang merasakan ketenangan dan kesenangan. Sedangkan kesenangan adalah suatu keadaan ketika unsur-unsur yang merusak dapat disingkirkan. Seseorang yang bekerja berdasarkan kewajiban dan bersumber dari pengetahuan, tentunya harus tidak lebih diperhatikan daripada seseorang yang bekerja berdasarkan rasa kesenangan, tanggung jawab yang penuh kepada Allah, umat dan dirinya sendiri. Untuk memperjelas pandangan terhadap individu perlu diketahuinya pengetahuan ketidakberesan dan kekurangan, sehingga dapat berkeputusan tanpa terganggu oleh pandangan yang memperdayai.

Segenggam Mutiara


Kuhargai pernyataan itu
dengan segenggam mutiara,
yang memisahkan diriku
dari prinsip hidup menuju kemanusiaan.
Tapi hidup adalah keputusan
kebenaranpun suatu keputusan
dan aku ada di dalamnya.

05 July 2009

Indera Eksternal >< Indera Internal

Indera-indera internal tidak akan berfungsi dengan baik, karena terhalangi oleh adanya fungsi indera eksternal. Oleh karena itu, berfungsinya indera-indera internal dapat terjadi pada masa atau waktu di mana indera-indera eksternal (mulai) tidak berfungsi.
Dan di mana suatu kabar itu tidak begitu memerlukan penafsiran adalah, pada saat berfungsinya kedua jenis indera tersebut. Di sinilah, di samping gambaran-gambaran yang tampak terlihat jelas oleh penglihatan, juga suara-suara dapat terdengar jelas oleh pendengaran.

Maka tidak heran jika ada seorang penyair dari Wajak Kabupaten Malang yang mengatakan:

" Di mana letak rahasia-rahasia keberadaan dan kewujudan? bila engkau memakinya... di balik gunung hitam itukah atau di depan mata terbentang? Keberuntungan dan kesengsaraan adalah dua sisi yang berbeda, mengapa kau campuradukkan...?"

03 July 2009

Kebenaran = Keniscayaan

Kebenaran tidak hanya antara hitam dan putih, tetapi juga kelabu, berada di antara hitam dan putih. Tidak percaya? Coba pahami konsep rukhsoh dan darurat dalam ajaran hukum Islam. Hal ini menunjukkan kepada kita tentang eksistensi kebenaran kelabu. Maksudnya adalah kebenaran akan kehilangan eksistensinya apabila berada di ruang dan waktu yang tidak tepat. Sebaliknya suatu keniscayaan akan bernilai kebenaran jika berada pada ruang dan waktu yang tepat.

09 May 2009

Jati Diri


Kita tidak pernah menjadi diri sendiri. Dalam hidup kita hanya bisa menjadi orang menurut orang lain. Kita menjadi isteri yang sesuai dengan kemauan suami, menjadi karyawan yang sesuai dengan kemauan bos, menjadi warga yang sesuai dengan tradisi kampung, menjadi anak yang sesuai dengan keinginan orang tua, dan sebagainya. Untuk itu, kita harus banyak beradaptasi, menyesuaikan diri, banyak bertoleransi, menjaga perasaan. Ketika berpindah tempat, kita harus segera merubah kondisi kita supaya sesuai dengan lingkungan kita yang baru. Sesekali kita ingin menjadi diri sendiri, maka kita harus siap untuk diusir, dikucilkan, dimusuhi, difitnah dan di di yang lain, kita akan menjadi the loser.

27 February 2009

PNS: Jangan Hanya Mengandalkan Gaji


Ketika menjadi PNS pada tahun 2003, pertama kali yang saya pikirkan adalah menutup angsuran untuk kebutuhan hidup sebelum menjadi PNS. Dengan waktu yang habis untuk rutinitas pekerjaan, otomatis yang terpikir pada waktu itu adalah bekerja keras untuk menutup angsuran. Ketika ada kenaikan gaji, merupakan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi. Sehingga saya merasa dikejar-kejar angsuran yang tak kunjung selesai. Ketika dana tidak mencukupi sedangkan kebutuhan hidup menuntut untuk segera dipenuhi maka jalan satu-satunya adalah ngirit dan menahan diri.

Hal seperti itu akhirnya mendorong saya untuk membuka pikiran. Pertama yang saya lakukan adalah mengamati pola berpikir para pedagang. Saya ingin tahu, kenapa para pedagang atau para businessman itu begitu mudah memenuhi kebutuhan baik primer, sekunder maupun tersiernya. Yang kedua, saya masuk kedalam sebuah MLM dengan tujuan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan edukasi maupun motivasinya. Ketiga, saya membeli buku-buku bisnis untuk membuka cakrawala pemikiran, mungkin banyak hal-hal yang selama ini tidak pernah saya pikirkan.

Yang pertama adalah para pedagang selalu memegang uang yang terus berputar dan sebagian ditahan. Uang yang berputar untuk memperlancar sirkulasi barang dagangan, sedangkan uang yang ditahan ditujukan untuk membeli asset dan investasi. Kedua, di Multi Level Marketing saya mempelajari tentang penjualan, membangun motivasi, bekerja dalam tim dan kerja keras. Sedangkan yang ketiga dari buku saya mendapatkan pemahaman bahwa bisnis yang sukses secara umum berasal dari minat yang besar terhadap bidang tertentu, fokus dan kerja keras. Kiyosaki dalam bukunya The Cashflow Quadrant membagi penghasilan manusia menjadi dua, kuadran sebelah kiri adalah employee (seseorang yang bekerja untuk orang lain) seperti karyawan perusahaan, PNS, atau buruh. Kemudian self-employee (pekerja lepas) seperti pengacara, dokter, konsultan dan pengkhotbah/muballigh. Sedangkan sebelah kanan terdiri dari business owner (pemilik usaha yang mendelegasikan aktifitasnya pada sebuah sistem) dan investor (penanam modal). Kiyosaki menyarankan kita untuk berada di posisi kuadran kanan karena itu merupakan jalan menuju keamanan finansial atau bahkan kebebasan finansial.

Bisa jadi seseorang berada sekaligus di kedua kuadran. Pegawai negeri sipil sebagai profesi sekaligus sebagai seorang pemilik usaha/bisnis atau investor. Karena menurut Kiyosaki, dalam bukunya, lebih baik berdiri dengan dua kaki daripada dengan satu kaki karena akan mudah terjatuh. Mungkin PNS adalah profesi kita, tetapi jangan lupa kita harus mempunyai bisnis yang dijalankan oleh orang yang kita gaji atau kita mendapat penghasilan yang kita peroleh dari investasi yang kita tanam di berbagai tempat. Hasil dari itu semua kita gunakan untuk semakin memperbesar aset dan investasi kita. Sehingga pada akhirnya kita akan sampai pada kebebasan finansial.

Usaha yang saya lakukan, pertama kali saya menemukan bahwa saya senang dengan kegiatan keilmuan, maka hal itu harus ditekuni dengan mengikuti seminar, workshop atau mungkin dengan melanjutkan pendidikan atau dengan kata lain investasi pendidikan. Dengan jalan seperti itu, secara tidak terduga sering ada pemasukan finansial selain dari gaji sebagai PNS.

Langkah kedua, dengan waktu mengajar yang dua hari berarti di luar itu banyak waktu untuk mengembangkan usaha sesuai dengan minat saya. Karena usaha yang optimal adalah yang sesuai dengan bakat dan minat kita, kalau kita bakat dagang seharusnya ke pasar, kalau bakat berkomunikasi mungkin mengembangkan usaha pemasaran atau event organizer, pun jika kita berbakat dalam bidang pendidikan lebih baik mengembangkan sebuah lembaga pendidikan yang prospektif. Jangan sebaliknya, bakat jadi broker tetapi menangani sebuah pesantren, kemungkinan mudharatnya akan lebih besar.

Ketiga, menginventarisir aset yang saya miliki dan menjadikannya lebih produktif. Misalnya tanah, segera disertifikatkan, supaya dalam keadaan tertentu bisa menjadi agunan. Disamping itu bisa ditanami tanaman yang menghasilkan dengan cara mempekerjakan orang lain. Sedangkan aset bangunan, sebaiknya dimodifikasi menjadi bentuk tempat usaha.

Keempat, memberi pendidikan finansial sedini mungkin kepada anak-anak, supaya kelak dapat meneruskan apa yang sudah saya usahakan sekarang sekaligus dapat mengembangkan. Dengan langkah-langkah seperti itu, sekarang apabila ada kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi, pikiran yang terbersit pertama kali di benak saya bukanlah menahan diri, tetapi bagaimana caranya saya bisa memenuhi kebutuhan itu. Dengan demikian, lambat laun keluarga bisa lebih “terhidupi”, di samping ada hal lain yang juga perlu “dihidupi” yaitu masjid, TPQ, Diniyah dan SMP.

LITERATUR KLASIK


Kitab ini sekitar tahun 1997 saya temukan di pogo (tempat untuk menyimpan barang yang sudah tidak terpakai) di atas dapur rumah Bude saya di desa Patokpicis, bersamaan dengan kitab-kitab lain yang dimasukkan ke dalam karung. Memang sebelumnya saya berniat mencari kitab-kitab peninggalan kakek saya, siapa tahu ada yang masih bisa saya baca. Dari sekian kitab-kitab yang ada, satu ini yang menarik perhatian saya. Kitab-kitab yang lain masih banyak yang bisa ditemukan di toko-toko kitab, tetapi yang satu ini saya yakin sudah tidak ada stocknya di toko kitab manapun.
Kitab ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama berjudul Idhoh Asrari Ulum al-Muqarrabin (Penjelasan tentang Rahasia Ilmu Orang yang dekat kepada Allah) ditulis oleh Syekh Muhammad ibn Abdillah ibnu Syekh al-Idrus Ba Alwi. Isinya tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan gerak-gerik hati sesuai dengan pengalaman spiritual penulisnya.
Yang kedua berjudul al-Kibrit al-Ahmar (Belerang Merah) ditulis oleh al-Arif Billah Syekh al-Habib Abdullah ibnu Abi Bakr al-Idrus yang berisi tentang ajaran tasawuf khususnya yang berkenaan dengan Maqamat dan Ahwal.
Sedangkan bagian yang ketiga berjudul Ghayatul Qurab fi syarhi Nihayah al-Thalab (Tujuan Orang yang Dekat kepada Allah mengenai Akhir Pencarian) yang ditulis oleh Waliyyullah al-Syarif al-Habib Muhyiddin Abdul Qodir ibnu Syekh al-Idrus yang berisi tentang tata cara wusul kepada Allah.
Dari ketiga bagian itu yang paling menarik bagi saya adalah yang pertama, karena terlihat dari paparannya betul-betul merupakan pengalaman spiritual dari penulisnya atau sering disebut dengan al-Ilmu fi al-Sudur (Ilmu adalah apa yang ada di dalam hati). Sedangkan dua bagian lainnya lebih merupakan al-Ilmu fi al-Sutur (Ilmu yang ada di dalam tulisan) yang bisa ditemukan di literatur kebanyakan. Lebih istimewa lagi, di bagian pertama itu banyak terdapat jawaban-jawaban dari apa yang menjadi pemikiran saya selama ini.
Kondisi dari kitab ini sudah parah, dipinggir halamannya sudah banyak yang remuk, sehingga beberapa hari yang lalu kitab ini saya fotokopi jadi empat kali dan saya beri cover hijau tua dan merah tua dengan tulisan judul berwarna emas. Bagi pembaca yang menginginkan bisa menghubungi saya.

20 January 2009

PERSAHABATAN

Persahabatan secara umum, merupakan hal paling suci dan bermanfaat bagi manusia. Pengkhianat lebih jahat daripada pemalsu uang. Orang yang baik adalah sahabat bagi dirinya sendiri, dan yang lain juga merupakan teman baginya, ia tidak mempunyai musuh kecuali orang jahat. Orang yang bahagia adalah orang yang mempunyai sahabat dan berusaha agar dirinya bermanfaat bagi mereka. Manusia harus bekerja sebaik-baiknya untuk membahagiakan temannya dan selalu berbuat baik kepada mereka tanpa berbuat munafik dan mengambil muka.

KEBAJIKAN


Alam semesta sebagai suatu keseluruhan adalah suatu sistem yang relevan dan organisme yang hidup. Anda jangan mengharapkan memperoleh ganjaran kebaikan yang telah Anda lakukan dari orang yang menerima kebaikan Anda itu. Kadang-kadang Anda melakukan sesuatu di sebuah tempat dan memperoleh ganjarannya di tempat lain secara tak terduga. Mengapa? Karena Allah adalah Pengatur Alam Semesta dan mencintai orang yang murah hati. Sa'di penyair Iran berkata: "Kerjakan kebajikan, dan lemparkanlah ke sungai Tigris, dan Tuhan akan memberimu pahala di gurun Sahara."