24 January 2014

BAB SIFAT PARA PENGGENGGAM RAHASIA



Hati orang-orang yang sudah tercerahkan adalah kubur bagi rahasia yang terpendam. Rahasia di sini maksudnya adalah pengetahuan dari segala sesuatu yang bersifat noumena bukan fenomena; yang substansial bukan eksistensial; yang bersifat hakikat. Sungguh tidak mudah bagi kita menemukan orang-orang yang tercerahkan seperti ini karena biasanya mereka malah memendam rahasia-rahasia yang telah diketahuinya itu dan punya sifat menyendiri dari pergaulan manusia.
Jadi bagaimanakah jelasnya sifat orang-orang seperti itu? Jawabnya, mereka adalah orang yang Kā`in dan Bā`in. Artinya adalah orang yang bergaul dan kelihatan sama di antara makhluk Allah akan tetapi pada hakekatnya mereka sangat berbeda karena rahasia-rahasia pengetahuan yang mereka miliki. Mereka berpakaian sebagaimana orang lain berpakaian dan makan sebagaimana orang lain makan akan tetapi mereka mempunyai perasaan selalu terkucil dari pergaulan dan sulit menyesuaikan diri dengan sesamanya sebab karena menanggung amanah rahasia-rahasia tersebut.
Merekalah pemegang pengetahuan haqq al-yaqīn, sebuah pengetahuan yang berasal dari pencandraan secara langsung dan tidak membutuhkan pembuktian. Berbeda dengan pengetahuan ilmu al-yaqīn yang membutuhkan pembuktian empiris dan ain al-yaqīn pengetahuan yang membutuhkan pembuktian data.
Berkaitan dengan sifat-sifat ini Abu Hatim al-A’raj menulis kepada al-Zuhri: Ketahuilah, ada beberapa kemuliaan dari Allah yang diberikan pada makhluknya. Di antaranya adalah kemuliaan yang diberlakukan dan diberikan pada para kekasihnya. Mereka adalah sosok-sosok yang tidak dikenal oleh publik dan kepribadian mereka tidak teridentifikasi dengan jelas. Sifat-sifat mereka adalah sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah SAW berikut ini, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang tersembunyi (al-akhfiyā`), orang-orang yang bertakwa (al-atqiyā`) dan orang-orang yang baik (al-abriyā`). Ketika mereka tidak hadir tidak ada orang yang mempertanyakan keberadaannya dan ketika mereka hadirpun tidak ada yang mempedulikannya. Apa yang ada dalam hati-hati mereka merupakan pelita petunjuk dalam kegelapan. Mereka itulah segolongan orang yang terselamatkan dari setiap fitnah yang mencekam”.

BAB KEGELISAHAN



Kegelisahan adalah salah satu sifat dari para ahli suluk (ahli lelaku). Kegelisahan yang dimaksud dalam hal ini adalah kegelisahan karena jauh dari Allah bukan karena latar belakang keduniaan. Kegelisahan dari segala sisi adalah keutamaan dan nilai plus bagi orang beriman selama hal itu tidak disebabkan oleh kemaksiatan.

Dalam sebuah khabar disebutkan “Sesungguhnya Allah mencintai hati-hati yang gelisah”. Disebutkan juga dalam kitab Taurat, “Jika Allah mencintai seseorang maka dijadikanlah di dalam hatinya penyebab kegelisahan, sedangkan jika Allah murka pada seseorang dijadikanlah dalam hatinya seruling penghibur yang senantiasa membuatnya gembira”. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa merasa gelisah dan selalu dalam kondisi berpikir.

Bishr ibn al-Harits berkata: Kegelisahan adalah malaikat, jika sudah bersemayam di suatu tempat maka tidak ada yang mampu mengubah kondisinya. Diceritakan bahwa jika di dalam hati tidak ada kegelisahan maka hati tersebut akan rusak dan hancur, sebagaimana rumah yang didalamnya tidak ada penghuninya maka lama kelamaan juga akan mengalami kerusakan dan kehancuran.

Sufyan ibn ‘Uyainah berkata, “Seandainya orang yang gelisah itu menangisi sebuah umat maka Allah akan merahmati umat tersebut karena tangisannya”. Seorang Daud al-Ta`i yang dikenal selalu kelihatan gelisah berkata, “Bagaimana bisa seseorang menghibur jiwanya yang gelisah oleh sebab ditimpa musibah setiap waktu”. Hasan al-Basri juga dikenal sebagai orang yang senantiasa berbicara tentang kegelisahan.

Waki’ berkata ketika wafatnya al-Fudail ibnu ‘Iyadh, “Hari ini telah pergi kegelisahan dari muka bumi”. Sebagian ulama salaf berkata, “Sebagian besar dari yang ditemukan dalam catatan kebaikan seorang mukmin berasal dari perasaan sedih dan gelisah”. Ulama salaf juga berkata, “sesungguhnya setiap sesuatu itu ada zakatnya dan zakat bagi akal seseorang adalah panjangnya rasa gelisah dalam dirinya”.

(Disarikan dari Kitab al-Risālah al-Qushayriyyah: Bab Kegelisahan)

BAB KESENDIRIAN




Barangsiapa ingin menyelamatkan agamanya, mengistirahatkan badan dan merawat serta mengobati hatinya para ulama salaf memberikan resep: hendaklah dia menyendiri dari hiruk pikuk pergaulan manusia. Karena menurut mereka zaman ini adalah zaman yang berlari dan tidak memberi kesempatan untuk berhenti dan beristirahat. Untuk itu tindakan bagi orang berakal adalah dengan sesekali berhenti, menepi dan menyendiri. Hati dan akal pikiran yang selalu terpacu suatu saat akan jatuh sakit dan membutuhkan obat untuk penyembuhannya.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada ibnu al-Mubarak, “Apa obatnya hati?” Beliau menjawab, “Sedikit bergaul dengan manusia.” Dalam riwayat lain beliau juga berkata, “Ketika Allah berkehendak merubah kondisi seseorang dari kerendahan maksiat menuju kemuliaan ketaatan maka Dia membuat hatinya cenderung pada kesendirian, mencukupkan dirinya dengan sikap qanā’ah dan mencukupkan pandangan matanya dengan aib-aibnya sendiri. Barangsiapa yang dikehendaki seperti itu maka dia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat”.
Lelaku menyendiri tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang punya kepribadian kuat. Bagaimana tidak, sekarang ini semua kehidupan didominasi oleh persaingan untuk menjadi yang terkenal dan popular. Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain terhadap kemampuan kita menjadi sebuah keharusan. Kita sepertinya tidak rela kalau masyarakat tidak tahu atau tidak mengakui segala kemampuan yang kita miliki. Kitapun tidak suka jika ada orang lain yang melebihi kemampuan kita.  Kita semua ingin diakui sebagai orang yang unggul; punya kemampuan dalam bidang seni, punya kemampuan intelektual tinggi, produktif dalam berkarya dan sebagainya. Kita marah kalau title tidak dipasang di depan maupun di belakang nama kita.
Di sisi lain dengan menyendiri kita justru dianjurkan untuk meninggalkan semua itu. Bisa dipastikan tidak akan ada yang mau hidupnya tidak dikenal oleh khalayak ramai dan tenggelam dalam sejarah. Pastinya semua orang ingin eksis dalam percaturan dunia. Ghalibnya, seumur hidup aktifitas kita didorong oleh ambisi untuk membuktikan hal itu. Mencari pengakuan dari orang lain.
Sebenarnya dengan menyendiri inilah kita diajak untuk kembali ke awal (al-rujū’ ilā al-bidāyah). Kembali kepada asal muasal dan tujuan kita diciptakan. Mengkaji ulang visi, misi, target dan tujuan yang semula sudah ditetapkan akan tetapi sudah terdistorsi sepanjang sejarah perjalanan kehidupan. Menafsirkan diri sendiri dengan lebih baik. Berusaha mencari pola hidup yang sesuai dan sejalan dengan hati nurani.
Hal ini bukan berarti mengajak untuk menghindari aktifitas pekerjaan dan pergaulan. Tetapi cobalah sesekali kita memejamkan mata, mengheningkan hati di ruang hiruk pikuk, ruang keramaian baik yang terlihat mata maupun yang tak terlihat. Barangkali kita menemukan sesuatu yang indah di sana. Yang dapat menjadi obat bagi hati dan akal pikiran.

13 January 2014

AL-QURAN: BAHASA YANG TERMAMPATKAN



Pada tulisan yang lalu saya menyampaikan bahwa bahasa al-Quran tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa manapun. Jika hal itu dilakukan akan ada sesuatu hal yang tak tersampaikan. Satu hal yang tak mungkin tersampaikan ketika menerjemahkan ayat-ayat tersebut adalah kesesuaian yang mengagumkan antara nada ayat dan maknanya. Mungkin kita tidak cukup sekadar mengatakan bahwa nada ayat itu selaras dengan maknanya, tetapi lebih dari itu, nada ayat itu sendirilah yang melahirkan maknanya.
Mereka yang mengerti musik tahu bahwa alunan nada-nada dapat menyampaikan pesan meskipun tidak diiringi lirik. Bahkan banyak dari mereka yang percaya bahwa musik bisa menyampaikan makna yang tidak bisa disampaikan oleh kata-kata. Al-Quran bukanlah musik, tetapi ketika dibaca, ia memiliki efek terhadap pendengaran manusia seperti efek alunan musik. Selain teknik melodi yang mungkin digunakan pembacanya, ayat-ayat al-Quran sarat dengan irama, nada puitis dan sajak.
Dari sisi ini, bahasa Arab al-Quran meminjam pola oral puisi pra-Islam, tetapi al-Quran bukanlah puisi. Menurut seorang ulama, bahasa Arab al-Quran merupakan perpaduan unik antara prosa bersajak (saj’) dan prosa bebas. Al-Quran sarat dengan nada-nada puitis, yang tertuang dalam ayat yang panjang maupun pendek. Beragam pola sajak, ritme dan nada akhir yang tanpa rima dan juga perbedaan panjang surah-surahnya secara keseluruhan merupakan komposisi sastra yang berkaitan erat dengan makna yang disampaikan. Jadi, menurut Issa J. Boullata dalam Encyclopedia of the Quran, dapat disimpulkan bahwa semua itu merupakan unsur penting dalam proses penyampaian pesan al-Quran.
Karena nada al-Quran sangat terkait erat dengan maknanya, kita harus menyoroti sejumlah aspek bunyi ayat-ayat tertentu ketika membahas makna kata-katanya. Jika ini tidak dilakukan, sangat mungkin kita tidak dapat memahami sejauh mana kaum muslim di masa Nabi terpengaruh oleh gaya, ungkapan dan lantunan ayat-ayat al-Quran. Namun, ini tidak berarti bahwa mendengarkan bacaan al-Quran semata menjadi pengalaman estetis bagi mereka, sebab al-Quran sendiri menegaskan bahwa ia bukanlah puisi. Al-Quran menegaskan kedudukannya sebagai mahakarya yang unik dan tidak bisa ditiru.
Salah satu aspek ketaktertiruan al-Quran adalah kandungan maknanya yang tersimpan apik dan termampatkan dalam rangkaian ayat-ayatnya. Memisahkan pesan atau makna dari ungkapannya akan menyebabkan kita tak dapat memahami dengan baik pengaruh al-Quran terhadap pendengar atau pembacanya di sepanjang abad. Bahasanya menjelaskan semua kemungkinan tentang manusia, Tuhan dan alam semesta dengan menggunakan gaya bahasa yang khas dan ilahiah yang dapat digali dengan potensi yang sudah melekat pada diri manusia yaitu akal dan intuisi atau potensi intelektual dan spiritual.
Para ulama yang menekuni al-Quran umumnya suka menelusuri semua nuansa yang mungkin terkandung dalam sebuah kata yang dapat memperkaya ruhani seseorang. Tapi tentu saja, tidak semua orang Islam tertarik dengan al-Quran atau mampu mempelajari dan menghafalnya. Kebanyakan mereka hanya memiliki hubungan pasif dengan al-Quran. Jelasnya, mereka suka mendengar bacaan yang fasih dan indah, tetapi tak tergerak untuk mempelajarinya secara serius. Inilah yang terjadi selama berabad-abad.

”Katakanlah, ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”
”Dan sungguh, Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam al-Quran ini dengan bermacam-macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukainya bahkan mengingkari(nya).
(Memperjalankan di Malam Hari: 88-89)